Pada jaman perjuangan negara indonesia, para pemuda indonesia melihat cahaya perasaan rakyat – rakyat Indonesia yang tidak senang dengan nasib ekonomi, politik, dll.berkaca dari keadaan itu, para pemuda berusaha menciptakan sebuah peradaban yang baru yaitu sebuah zaman di mana sebuah kemakmuran dan keadilan bisa tercipta di sana.
Pada zaman dahulu teori kuno yang mengatakan bahwa “ siapa yang ada di bawah harus terima senang, yang ia anggap cukup harga duduk dalam perbendaharaan riwayat , yang barang kemas – kemasnya berguna untuk memelihara siapa lagi yang berdiri dalam hidup.” Hal ini sudah tidak mendapat kepercayaan dan penganggapan dari rakyat Asia. kepercayaaan bersendi pada pengetahuan.para masyarakat asia sudah mulai memahami dan meyakini bahwa kolonisasi bukanlah keinginan pada kemasyhuran, bukan keinginan melihat dunia asing, bukan keinginan merdeka, dan bukan pula karena negeri rakyat yang menjalankan kolonisasi itu terlampau sesak oleh banyaknya penduduk yang telah diajarkan Gustav Klemm tetapi kolonisasi merupakan Perampasan harta benda negara yang merupakan milik rakyat.
Kolonisasi menyebabkan hampir selamanya kekurangan bekal hidup dalam negaranya sendiri begitulah kata Dietrich Schfer.Kekurangan pendapatan negara itulah yang membuat negara – negara eropa melakukan kolonisasi terhadap negara – negara asia terutama Indonesia yang kaya akan kekayaan alam.begitulah bertahun – tahun negara eropa memperbudak negara indonesia.itu membuat negara eropa bertambah kekayaannya.
Sungguh tragis nasib negara jajahan di asia dan hal inilah yang membuat sadar rakyat indonesia.hal inilah yang mulai menjadi nyawa pergerakan rakyat Indonesia, yang mempunyai 3 sifat,yaitu Nasionalisme, Islamistis, dan Marxistis.
Mempelajari ketiga hubungan ketiga sifat itu, membuktikan bahwa tiga haluan ini dalam suatu negeri jajahan tidak berseteru dan bisa bekerja sama menjadi satu gelombang yang mahakuat dan mahabesar.Untuk mewujudkan semua itu yang di butuhkan hanyalah persatuan yang mempunyai satu orang pemimpin yang menggerakannya.

Nasionalisme, Islamisme, dan marxisme !
Inilah asas – asas yang dianut oleh pergerakan – pergerakan rakyat di Asia .Inilah faham yang menjadi rohnya pergerakan – pergerakan di Asia dan Pergerakan di Indonesia.
Partai Boedi Oetomo,”Marhum”National Indische Partij yang kini masih “hidup”, partai saerikat Islam,dll masing – masing mempunyai ketiga roh faham tersebut .yang menjadi persoalannya sekarang dapatkah ketiga faham itu di persatukan menjadi sebuah kekuatan besar.
Nasionalisme ! kebangsaan !
Dalam tahun 1882 Ernast Renan telah membuka pendapatnya tentang faham “ bangsa “ itu .”bangsa “ itu menurut para pujangga ini ada suatu nyawa suatu azas-akal yang terjadi dari dua hal,yaitu pertama – tama rakyat itu sekarang dulunya harus bersama – sama mencapai satu tujuan bersama.kedua, rakyat itu sekarang harus mempunyai kemauan, keinginan hidup menjadi satu.Dari peristiwa – peristiwa belakangan ini, maka penulis – penulis lain seperti karl kautsky dan karl Radek dan otto Bauer mempelajari soal “bangsa” itu.
“Bangsa adalah suatu persatuan perangai yang terjadi dari persatuan hal ihwal yang telah di jalani oleh rakyat itu”
Nasionalisme adalah suatu ikhtikat baik: suatu kemsyafan rakyat bahwa rakyat itu ada satu golongan, satu”bangsa”!
Dari pernyataan – pernyataan para tokoh di atas dapat disimpulkan bahwa rasa nasionalis itu menimbulkan suatu rasa percaya akan diri sendiri, rasa yang mana adalah perlu sekali untuk mempertahankan diri dalam perjuangan Indonesia.
Rasa percaya diri itulah yang member keteguhan hati pada kaum Budi utomo dalam usahanya mencari jawa besar, rasa percaya diri sendiri inilah yang menimbulkan ketetapan hati pada kaum revolusioner – nasionalis dalam perjuangannya mencari kemerdekaan Indonesia.
Rasa Nasionalisme pada hakekatnya mengecualikan segala pihak yang tidak ikut mempunyai “keinginan hidup menjadi satu “ dengan rakyat.Maka tidak boleh dilupakan bahwa para penganut paham Islamisme dan Marxisme di Indonesia mempunyai tujuan yang sama,yaitu”keinginan hidup menjadi satu”.
Kaum Nasionalis yang mengecilkan dan mengecualikan segala pergerakan yang terbatas pada Nasionlisme, mengambil memahami kata – kata Mahatma Gandhi,”Buat saya, maka cinta saya pada tanah air itu, masuklah dalam cinta itu pada segala manusia. Saya ini seorang patriot, oleh karena saya manusia dan bercara manusia. Saya tidak mengecualikan siapapun.” Inilah Prinsip Mahatma Gandhi dalam mempersatukan segala faham di india.
Nasionalisme – Islamisme
Prof.T.L.Vaswani, “Jikalau Islam menderita sakit, maka roh kemerdekaan Timur tentulah sakit juga;sebab makin sengitnya negeri – negeri muslim kehilangan kemerdekaannya. Makin lebih sangat pula imprealisme eropa mend\cekel roh asia.tetapi saya percaya pada asia sediakala; saya percaya bahwa roh-nya masih akan menang Islam adalah Internasional dan jikalau islam merdeka, maka nasionalisme kita itu adalah di perkuat oleh segenap kekuatannya iktiakad internasional itu.”
Dari pernyataan yooh diatas dapat di katakana bahwa Islam dengan nasionalisme itu berhubungan seperti, Islamisme dengan Nasionalisme sama – sama mewajibkan bekerja untuk keselamatan orang negeri yang di tempatinya dan juga sama – sama mengutmakan persatuan.
Nasionalisme – Marxisme
Nasionalisme mempunyai beberapa persamaan, yaitu
1. Asal pergerakan mereka sama – sama di Indonesia atau Asia
2. Arah pergerakannya sama
Kerjasama ini pernah di terapakan oleh Dr.Sun Yat Sen, panglima nasionalis yang besar itu.kesenangan hati beliau bekerjasama dengan kaum marxisme walaupun beliau tidak yakin bahwa peraturan marxis pada saat itu belum bias diadakan di negeri tiongkok.
Islamisme, Keislaman!
Pada abad 19 berkilau – kilauanlah dunia islam akan sinar dua tokoh memerjuangkan islam pada masa itu,yaitu Sheikh Mohammad Abdouh, Rektor Universitas Al-Azhar mesir dan Seyid Jamaluddin El Afghani, dua panglima Pan- Islamisme yang telah membangun dan menjunjung rakyat – rakyat islam di seluruh Asia dari kegelapan dan kemunduran.
Pada masa itu rakyat Indonesia mulai menyadari akan nasibnya yang malang dalam penjajahan. Mereka menghadap kiblat dan mulut mengaji La Haula Wala Kauwata illa billah dan billahi fasabilil ilahi.
Mula – mula perlahan dan belum begitu terang benderanglah jalan yang diikutinya tetapi semakin lama semakin terang dan jelas bahwa peregerkan islam akan berpengaruh dalam sesuatu negara dalam semua aspek.
Makin mendalamnya pendirian atas keagamaan pergerakan islam inilah yang menyebabkan keseganan kaum marxis dan nasionalis untuk merapatkan diri dengan pergerakan islam.karena mereka berpendapat bahwa agama tidak boleh di bawa – bawa ke dalam dunia politik adanya dan sebaliknya kaum islam yang “fanatik” juga menghina politik kebangsaan dari kaum nasionalis dan marxis, mereka berpendapat bahwa politik nasionalis – marxis itu sempit.
Nasionalis juga juga menuduh juga menuduh pada agama islam bahwa negeri islam itu sekarang rusak di bawah pemerintahan barat.
Mereka salah paham! Bukan islam melainkan pemeluknyalah yang salah.sebab dipandang dari pendirian nasional dan pendirian sosialis, maka tinggi derajat umat islam pada awalnya sulit di cari di bandingkan rusaknya kebesaran nasional.Rusaknya sosialisme islam bukanlah di sebabkan oleh Islam sendiri melainkan oleh karena rusaknya budi pekerti para pemeluknya.Bukankah islam telah menunjukkan contoh – contoh kebesaran yang mencengangkan bagi siapa yang mempelajari sejarah dunia.
Islam yang sejati tidaklah mengandung azas anti-nasionalis;islam yang sejati tidak bertabiat anti-sosialistis. Selama kaum islamis ,memusuhi faham – faham nasionalis dan marxisme, maka tidak akan dapat berdiri di atas sirothol mustaqim.bukankah islam yang sejati mewajibkan pemeluknya mencintai dan bekerja untuk Negara yang di diami, mencintai dan bekerja untuk rakyat di mana ia hidup selama rakyat dan negeri itu masuk darul islam.
Para kaum Islamis seharusnya menyadari bahwa pergerakannya yang anti-kafir itu pastilah menimbulkan rasa nasionalisme.oleh karena golongan – golangan yang telah di sebutkan kafir itu adalah kebanyakan dari bangsa lain, bukan bangsa Indonesia.
Tiada halangan bahwa persahabatan antara Islamisme – Marxisme bisa terjalin. Karena mereka sebenarnya saling berhubungan, yaitu pada azas perbendaan ( materialisme historic opvatting) inilah yang sering menajdi penunjuk jalan bagi kaum islamisme tentang soal – soal ekonomi dan politik dunia serta historis materialism ( Ilmu perbendaan berhubungan dengan nasib)merangkan kejadian – kejadian yang telah terjadi di muka bumi ini adalah caranya menujumkan kejadian – kejadian yang akan dating adalah amat berguna bagi kaum islamisme.
Kaum islamisme juga tidak boleh lupa bahwa kapitalisme juga menjadi musuh kaum marxisme sebab meerwaarde dalam faham marxisme dalam hakikatnya tidak lain daripada riba dalam paham islam.maka tidaklah pantas kaum islam memusuhi kaum marxisme.
Marxisme !
Mendengar faham ini, maka mengingatkan kita pada pahlawan yang membela kaum buruh di Jerman, yaitu Henrich Karl Marx.Kita tentu ingat dengan seruannya “Kaum buruh dari semua kalangan, berkumpulah menjadi satu!” Dan sesungguhnya ! riwayat dunia belumlah pernah menlahirkan pendapat dari seorang manusia yang begitu cepat masuknya dalam keyakinan satu golongan pergaulan hidup, sebagai pendapatnya kampiun kaum buruh ini.Dari puluhan menjadi ratusan, dari ratusan menjadi ribuan,.begitulah jumlahnya bertambah – tambah. Sebab walaupun teori – teorinya ada yang sangat sukar dan berat untuk kaum yang pandai dan berpikiran jernih, tetapi sangatlah mudah di mengerti oleh kaum yang tertindas dan sengsara, kaum berpikiran sempit yang berkeluh kesah itu.”
Pergerakan Marxistis di Indonesia ini, mengingkari pergerakan Nasionalisme dan Islamisme di negeri ini.Beberapa tahun belakangan ini keingaran ini sudah menyebabkan Perselisihan dan pertikaian,dll di antara para penganut paham itu.
kemudian muncul faham Marxisme baru dengan taktik menyokong pergerakan – pergerakan nasionalis dan islamis di asia yang sungguh – sungguh,tidak seperti dulu yang bersikap sebaliknya.Para penganut Marxis yang masih memusuhi faham lain, dikarenakan mereka tidak tahu taktik marxisme yang baru.
Sebaliknya, Nasionalis dan Islamis yang menunjuk – nunjuk akan praktiknya marxisme akan membawa bencana kekalang kabutan dan kelaparan.Mereka semua salah paham karena sesungguhnya marxisme mengajarkan bahwa sosialisme bisa terwujud apabila dalam negeri itu di sosialisikan secara sungguh – sungguh.
Kaum Marxis harus ingat bahwa pergerakannya itu tidak boleh tidak pastilah menimbulkan rasa nasionalisme di hati sanubari kaum buruh indonesia.karena modal di indonesia itu kebnayakan dari asing, hal itu menimbulkan rasa tidak senang para buruh yang kemudian muncul keinginan pada nationale machtpolitiek dari rakyat sendiri.Mereka harus sadar bahwa rasa internasionalisme di indonesia tidak bisa seperti di eropa, karena para buruh indonesia menerima paham hanya sebagai taktik belaka.
KESIMPULAN
Setelah di paparan diatas sudah di jelaskan,maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Indonesia itu sampai sekarang memiliki tiga faham yang berbeda walaupun memiliki persamaan – persamaan dan hubungan yang memungkinkan secara tidak sadar mereka telah bekerjasama dalam membangun negara indonesia.Setiap penganut faham tidak boleh saling menjelek – jelekkan faham lainnya dan juga memusuhi orang yang tidak sefaham dengannya.
Karena kita tidak bisa memaksakan orang untuk menganut faham yang kita yakini itu benar, karena itu adalah Hak Asasi Manusia bagi setiap warga Negara. Kita semua adalah Warga negara Indonesia yang berbangsa satu, bertanah air, dan berbahasa satu maka tidak sepantasnya kita saling memperdebatkan suatu faham – faham di negeri kita karena Indonesia menganut semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya Berbeda – beda tetapi tetap satu jua. Jadi kita harus bersatu untuk membangun Indonesia yang makmur dan sejahtera.Untuk masalah faham yang dianut mari kita kembali kepada pribadi masing – masing.
REFERENSI
Soekarno, Guruh .( 2005 ).Di bawah bendera Revolusi ( Kumpulan pidato bung karno ) ,Jakarta Pusat,Yayasan Bung karno