PEMANFAATAN BLOG (JURNAL ONLINE)
DALAM PEMBELAJARAN MENULIS
Made Hery Santosa
Universitas Pendidikan Ganesha
madeherysantosa@yahoo.com
ABSTRAK
Pada saat ini, perkembangan Teknologi dan Informasi Komunikasi (TIK) di berbagai bidang sangatlah pesat dan dilihat sebagai suatu keperluan dan juga kesempatan. Pada bidang pendidikan bahasa Inggris, misalnya, perkembangan TIK dapat memberikan dimensi baru kemampuan literasi bagi pembelajar; TIK mampu memberikan kesempatan berkreasi bagi penulis-penulis muda. Kemampuan menulis yang baik sangatlah penting bagi pembelajar kelak. Untuk mulai menulis, pembelajar bisa mulai dari sesuatu yang sederhana dan informal, misalnya jurnal/diari kegiatan sehari-hari. Namun, pembelajaran menulis saat ini masih dirasakan konvensional dimana pengajar masih sering menyuruh pembelajarnya membuat suatu tulisan langsung tanpa proses menulis. Seringkali topik yang diberikan terbatas sehingga kurang menarik, tidak menantang eksplorasi, kehilangan unsur inovasi dan kreasi. Bahkan, pengajarlah yang sering, selama ini, menjadi satu-satunya pemeriksa dari tulisan pembelajar sehingga kurangnya umpan balik dan interaksi dalam proses menulis tersebut. Salah satu cara yang bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan kemampuan menulis pembelajar dengan memanfaatkan TIK adalah dengan blog (jurnal online). Blog adalah sebuah jurnal online dimana pembelajar bisa menulis apapun yang menurut mereka menarik, mengeditnya, mempublikasikannya, dan bahkan membuatnya menjadi media agihan (sharing) bagi semua yang terlibat didalamnya. Dipercaya bahwa menulis dengan memanfaatkan blog dapat memberikan audiens yang nyata dan potensial untuk perbaikan tulisan pembelajar, inovasi, eksplorasi, dan kreasi yang lebih baik, memberikan interaksi yang lebih dinamis, kemampuan literasi yang lebih baik, bahkan perkembangan bekerja dalam tim.
Kata kunci: Blog, Pembelajaran Menulis

PENDAHULUAN

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah begitu pesat pada jaman ini. Perkembangan ilmu yang terjadi selama ini tidaklah berlangsung secara tiba-tiba, melainkan terjadi secara bertahap. Perkembangan ilmu terjadi karena manusia selalu dihadapkan pada tantangan alam, situasi dan kondisi yang memacu daya kreativitasnya.Selalu terdapat dorongan untuk membuat manusia melangkah ke arah kemajuan dan dorongan tersebut adalah rasa ingin tahu (curiousity) (Mutansyir, 2002: 63). Semua hal yang terjadi sampai sekarang ini merupakan rangkaian panjang sejarah peradaban manusia.
Pesatnya kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan tersebut telah menghadirkan tantangan (dan kesempatan) bagi seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan. Pendidikan saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan yang sangat kompleks, salah satunya adalah peningkatan sumber daya manusia yang mampu bersaing dan berkiprah di era globalisasi ini. Untuk itu, lembaga pendidikan sebagai suatu institusi yang bertujuan untuk meningkatkan sumber daya manusia diharapkan mampu memberikan yang terbaik dengan melakukan terobosan berikut upaya perbaikan dengan tujuan untuk peningkatan kualitas proses dan produk pendidikan.
Untuk membangun sistem pendidikan Indonesia yang berkualitas diperlukan adanya dukungan seluruh komponen secara menyeluruh dan berkesinambungan. Perkembangan global saat ini menuntut adanya perkembangan dari segi kualitas sumber daya manusia (Nurkolis, 2002: 1). Dunia pendidikan Indonesia telah mengalami banyak transformasi, mulai dari metode, fokus, kurikulum, dan lainnya. Pembelajaran bahasa, khususnya pembelajaran bahasa asing, juga mengalami hal yang serupa. Telah banyak strategi, teknik, metode, dan pemikiran-pemikiran yang telah dihasilkan untuk kualitas pembelajaran bahasa asing yang lebih baik. Akan tetapi, sampai sekarang, sepanjang yang peneliti tahu, pembelajaran bahasa asing, khususnya bahasa Inggris masih belum menunjukkan hasil yang optimal.
Kemampuan anak-anak yang belajar bahasa Inggris, bahkan telah dimulai sejak sekolah dasar dan ditambah dengan jam tambahan diluar kelas, masih tetap belum optimal. Pembelajaran bahasa Inggris juga saat ini dihadapkan pada tantangan untuk mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajarannya sehingga diharapkan sumber daya manusia dapat ditingkatkan. Terdapat banyak orang, terutama anak-anak yang belajar bahasa Inggris sekarang tidak mampu berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris meski mereka paham dengan aturan-aturan yang ada dalam bahasa tersebut Mereka cenderung hanya memahami konsep-konsep yang ada secara mekanis, dimana ketika mereka dihadapkan pada situasi yang harus berbicara atau menulis, mereka tidak mampu melakukannya. Terdapat banyak hal yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris di dalam kelas. Beberapa diantaranya adalah faktor-faktor berikut yang satu sama lain saling berhubungan. Pertama, dari faktor pengajar. Banyak pengajar yang belum paham dengan pembelajaran bahasa Inggris yang menekankan pada aspek penguasaan kompetensi akan keterampilan berbahasa dan komponen kebahasaan lainnya serta kreativitas dan kearifan lokal (www.hariannasib.com, 2006). Kurangnya kesempatan untuk berkreasi, kurangnya pemahaman dan kegiatan pelatihan yang menunjang mungkin menjadi penyebab rendahnya mutu pembelajaran yang disebabkan oleh mutu guru sehingga mempengaruhi kualitas pembelajaran bahasa Inggris. Kedua, dari faktor
kemampuan mahasiswa. Kualitas kemampuan bahasa Inggris mahasiswa semakin tahun semakin menurun, khususnya yang terlihat di lingkungan penulis. Dalam pembelajaran di kelas, mereka lebih sering cenderung untuk bersikap santai dan tidak tekun dalam belajar sehingga kualitas pembelajaran menjadi kurang optimal. Faktor ketiga adalah dari hal-hal di luar yang tadi disebutkan, misalnya lingkungan, sumber belajar, staf pendukung pembelajaran, fasilitas dan lainnya. Hal-hal ini tidak dapat dipungkiri dapat memberikan pengaruh terhadap kesuksesan proses belajar mengajar. Sudah seharusnya hal-hal tersebut mendukung secara positif kualitas pembelajaran sehingga kemampuan mahasiswa dapat meningkat. Akan tetapi, sering, hal-hal tersebut tidak optimal dalam mendukung kesuksesan pembelajaran bahasa Inggris. Hal-hal tersebut di atas telah mempengaruhi kualitas pembelajaran bahasa Inggris sehingga perlu dicarikan solusinya.
Seluruh komponen pembelajaran diharapkan harus dapat bekerja sama untuk mencapai hasil efektif untuk peningkatan pembelajaran. Misalnya, seorang dosen harus memiliki kompetensi dasar dalam hal pengelolaan dan pengaturan untuk menciptakan iklim belajar dan mengajar yang kondusif sehingga memungkinkan dilaksanakannya kegiatan proses belajar mengajar yang sesuai dengan kompetensi siswa masing-masing. Kompetensi dasar profesional ini tentunya harus ditunjang dengan strategi khusus mengingat kondisi setiap kelas berbeda-beda. Ada kalanya, suatu strategi tertentu di kelas A mungkin tidak bisa berlaku efektif sama jika strategi tersebut diaplikasikan di kelas B. Itu berarti untuk memiliki kompetensi ini seorang dosen harus memiliki pengetahuan awal tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembelajaran seperti hakekat belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar, ciri-ciri belajar dalam suatu bidang tertentu, minat dan sikap pembelajar, serta latar belakang pebelajar. Keterampilan menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan bahasa. Kemampuan menulis yang baik sangatlah penting bagi mahasiswa di kemudian hari karena akan mampu memberikan kesempatan dan juga tentunya tantangan yang lebih bagi mereka. Untuk menghasilkan suatu tulisan yang baik, seseorang harus memiliki skemata yang memadai untuk dapat diekspresikan secara efektif melalui media tulis. Suatu tulisan yang baik tidaklah bisa sekali jadi, namun semestinya melewati berbagai proses mulai dari proses outline, membuat draft, sampai bisa menjadi tulisan, dan sepanjang proses tersebut, revisi secara berkesinambungan terus dilakukan. Namun dalam kenyataannya, banyak mahasiswa yang tidak menghasilkan suatu tulisan dengan melalui proses menulis tersebut. Khususnya dalam pembelajaran menulis, hal-hal berikut berpotensi besar mempengaruhi keberhasilan pembelajaran menulis.
• Proses Belajar Mengajar.
Sering kali, proses belajar mengajar keterampilan menulis di kelas masih sangat sederhana. Dosen menerangkan materi perkuliahan, mahasiswa menulis, kemudian dikoreksi oleh dosen dan diberi komentar. Tidak ada proses yang mampu memberikan pematangan untuk perbaikan tulisan mahasiswa. Jika ada, hal tersebut tampaknya kurang banyak membantu mahasiswa.

• Umpan Balik (Feedback).
Feedback adalah hal yang sangat penting dalam kegiatan menulis. Namun, sering kali, tidak adanya proses feedback yang bersifat ragam antara mahasiswa, dan dosen. Dosen biasanya yang memberi lebih banyak komentar sehingga terkesan satu arah. Mahasiswa tidak tahu apa yang terjadi dengan tulisan mereka karena setelah selesai dikerjakan, langsung dikumpulkan ke dosen untuk dikoreksi.
• Standar Penilaian.
Standar penilaian yang digunakan harus jelas agar tidak mengundang pertanyaan akan kesahihan nilai yang diperoleh mahasiswa.
• Kreativitas dan Inovasi.
Nuansa ini juga bisa berfungsi sangat oenting dalam proses pembelajaran menulis. Namun, kurang adanya nuansa kreatif dan inovatif dalam pembelajaran di kelas sering terjasi dimana semua proses menulis dikerjakan di kelas sehingga tampak monoton, kurang ‘menantang’ eksplorasi pengetahuan mahasiswa.
• Motivasi.
Motivasi adalah faktor internal yang oenting untuk membantu seseorang memperoleh hasil yang lebih baik. Mahasiswa yang memiliki motivasi yang rendah dalam mengikuti perkuliahan tentu akan mempengaruhi keberhasilannya dalam pembelajaran menulis sehingga pada akhirnya, mahasiswa tidak mampu menghasilkan suatu tulisan yang baik dan sesuai dengan tuntutan kurikulum setelah menyelesaikan perkuliahan tersebut.
Sehubungan dengan hal tersebut diatas, beberapa inovasi baru dalam dunia pendidikan utamanya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Inggris, muncul. Seiring dengan perkembangan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (selanjutnya TIK), dalam dunia pendidikan, khususnya pembelajaran bahasa Inggris, perkembangan pesat TIK ini memberikan tantangan sekaligus kesempatan bagi pengajar dan mahasiswa agar dapat digunakan secara efektif di dalam pembelajaran di kelas. Menurut Sei-Hwa, 2006), TIK mampu menjadi salah satu media pembelajaran bahasa Inggris yang memberikan nuansa kreativitas, inovasi, dan tentu saja unsure senang. Merchant (2003) menambahkan bahwa pemanfaatan TIK bagi mereka yang, khususnya, tidak berada di dalam kelas dapat memberi suatu dimensi baru pembelajaran bahasa Inggris. Mahasiswa dapat berkomunikasi dengan berbagai cara inovatif yang ada, misalnya secara synchronous ataupun asynchronous, melalui media online. Lebih lanjut ia menambahkan bahwa khususnya untuk pembelajaran menulis, TIK dapat membuka berbagai kesempatan bagi penulis-penulis pemula karena mereka dihadapkan pada media online yang interaktif sehingga terbuka kesempatan untuk kemampuan untuk memperluas wawasan, audiens pembaca yang lebih luas daripada sebelumnya, dan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan yang lebih baik. Seiring dengan perkembangan TIK dewasa ini, terdapat banyak media online yang gratis yang bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Tools seperti blog, webpage, social networking system (friendster, facebook, tagged, dan lainnya), dan Content Management System (CMS) bisa digunakan untuk membantu meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris mahasiswa. Sehubungan dengan keterampilan menulis, salah satu media efektif yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam keterampilan menulis karena memiliki karakteristiknya yang relevan adalah media blog.
Blog (bentuk sederhana dari weblog) adalah sebuah laman (situs) seseorang yang sering di update yang sering disebut dengan jurnal (diari) online (Rouf dan Sopyan, 2007). Dewasa ini, blog berkembang sangat pesat seiring perkembangan TIK di Indonesia. Hampir semua orang memiliki blog, mulai dari artis, politikus, guru, dosen sampai mahasiswa karena proses membuatnya sangatlah mudah. Dengan memiliki blog yang juga berarti memiliki jurnal online, mahasiswa dapat menulis apapun yang mereka senangi, dimana mereka bisa edit dan publikasikan sesering mereka mau, yang juga bisa menjadi media agihan (sharing) bagi semua audiens, baik di dalam kelas maupun di luar kelas, bahkan ke luar negeri yang tidak bisa dibayangkan mengingat jurnal tersebut bersifat online. Sehubungan dengan peningkatan kemampuan menulis, pemanfaatan media blog sangatlah sesuai dengan karakteristik pembelajaran menulis. Dengan blog, mahasiswa bisa menulis apapun pada bagian blog yang telah ada, termasuk memberi tambahan penekanan atau informasi dengan media lain yang juga telah tersedia, seperti audio, video, atau link ke alamat laman (situs) relevan lainnya. Secara teknis, membuat blog tidaklah sulit, karena tidak memerlukan pengetahuan pemrograman dan sintaks yang
rumit. Mahasiswa hanya tinggal mengisi slot-slot yang sudah ada, seperti halnya mengetik, kemudian tinggal dipublikasikan dan blog mereka sudah bisa dilihat oleh seluruh orang didunia. Jika ada kesalahan, hal tersebut bisa langsung diperbaiki. Jadi, membuat blog sangatlah mudah, sepanjang ada koneksi. Blog sebagai wadah curahan ide dan tulisan mahasiswa akan sangat bermanfaat bagi mereka karena blog sebagai media online mampu memberikan audiens riil bagi tulisan mahasiswa. Jika selama ini, dosen adalah satu-satunya orang yang membaca tulisan mahasiswa, dengan media blog, tulisan mereka dapat dibaca oleh teman-teman mereka, baik yang sekelas maupun di luar kelas, bahkan di tempat-tempat lain, orang tua mereka, dan mereka yang memiliki akses ke internet. Tanpa disadari, potensi audiens riil ini memberikan ‘tuntutan’ sekaligus kesempatan bagi mahasiswa untuk menunjukkan hasil karya mereka yang terbaik. Diharapkan hal ini juga akan memberikan motivasi yang lebih baik bagi peningkatan kompetensi menulis mahasiswa. Lebih lanjut, sesuai dengan beberapa faktor yang telah disebutkan sebelumnya, blog dipercaya akan sangat membantu peningkatan prestasi mahasiswa dalam pembelajaran menulis. Rasional tindakan tersebut adalah sebagai berikut:
• Mahasiswa akan dibiasakan untuk berkerja melewati proses kegiatan menulis, mulai dari outline, membuat draft, sampai tulisan final dimana di setiap proses tersebut, revisi tetap dilakukan secara terus menerus. Hasil tulisan mahasiswa dari outiline, draft sampai tulisan final yang telah disetujui atau dikoreksi ditaruh di blog mereka sehingga memberi kebanggaan dan dorongan untuk berbuat yang terbaik untuk ditunjukkan ke semua orang yang memiliki akses ke blog mereka.
• Mahasiswa diberikan kesempatan untuk melakukan peer correction, dimana mereka bisa saling melihat dan memberi komentar pekerjaan temannya untuk hasil yang lebih baik sebelum dikoreksi oleh dosen. Hal ini sudah barang tentu akan membantu dosen juga mengingat mengoreksi tulisan mahasiswa tidaklah mudah mengingat jumlah kelas dan mahasiswa yang diajar.
• Dari awal, standar penilaian yang akan digunakan untuk mengoreksi pekerjaan mahasiswa diberikan dan dijelaskan sehingga masing-masing pihak paham akan apa yang semestinya ditekankan atau diperbaiki.
• Untuk memberi kreativitas dan inovasi, media blog akan digunakan. Mahasiswa akan dijelaskan terlebih dahulu bagaimana membuat blog, kemudian mengisi tulisan di dalamnya, dan bagaimana memberi komentar atas tulisan teman-temannya melalui media tersebut. Kemudian, seluruh blog mahasiswa didaftarkan oleh dosen dalam suatu wadah blog baru. Hal ini bertujuan mirip seperti mailing list (hal yang sama bisa dilakukan dengan media RSS/Rich Summary Site Feed/Really Simple Syndicate) dimana ketika seseorang yang meng-upload tulisan, sistem blog itu akan secara otomatis ‘memberi tahu’ pemilik blog lainnya yang sudah tergabung dalam suatu wadah tadi. Ini akan jauh memudahkan mahasiswa dan dosen. Jika tidak, agak sulit tampaknya untuk mengetahui apakah seseorang sudah menulis sesuatu atau belum kecuali yang bersangkutan memang sengaja masuk ke blog temannya. Peneliti yakin, dengan adanya nuansa inovasi dan kreativitas yang lebih diberikan, mahasiswa akan termotivasi untuk lebih mau lagi menulis dan menghasilkan tulisan yang lebih baik dan efektif.
Dalam pembelajaran menulis, mahasiswa juga harus memahami pengetahuan akan elemen-elemen dasar tulisan, pengetahuan akan komponen-komponen yang membentuk suatu tulisan yang padu (unity) dan koheren (coherence), serta kompetensi menulis berdasarkan jenis-jenis tulisan. Dalam hal ini, mahasiswa dapat menuangkan ide-idenya dan mengekspresikan perasaannya dalam bentuk tulisan yang baik dan efektif. Baik artinya paragraf tersebut merupakan suatu kesatuan yang padu dan koheren. Efektif dimaksudkan bahwa tulisan mereka nantinya mampu menarik perhatian pembaca sekaligus mampu menyampaikan pesan yang ingin dituangkan secara tepat dan baik. Dengan memanfaatkan blog sebagai media jurnal online dalam pembejaran menulis, kompetensi menulis mahasiswa dapat ditingkatkan. Peningkatan kompetensi ini diharapkan berimbas pada peningkatan kompetensi berbahasa Inggris mahasiswa yang meliputi aspek-aspek keterampilan bahasa lainnya, yaitu menyimak, membaca, dan berbicara serta komponen-komponen bahasa, seperti pelafalan, struktur, pilihan kata, kosakata, dan lainnya. Dengan meningkatnya kemampuan berbahasa Inggris mahasiswa, diharapkan kualitas pembelajaran dapat meningkat.

KAJIAN TEORI
Kompetensi Menulis
Finch dan Crunkilton (dalam Mulyasa, 2003: 37) menyatakan bahwa kompetensi berarti penguasaan terhadap tugas, keterampilan, tingkah laku, dan penghargaan-penghargaan yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan atau suatu prestasi. Padmadewi (2004) menambahkan bahwa kompetensi adalah kemampuan dalam mata kuliah dan mata praktikum yang harus dimiliki oleh lulusan; kemampuan yang harus dapat dilakukan oleh mahasiswa. Pada dasarnya, kedua pendapat tersebut memiliki ide yang sama tentang pengertian kompetensi yang pada intinya mengacu pada kemampuan mahasiswa untuk melakukan sesuatu berdasarkan suatu standar tertentu.
Definisi-definisi tersebut dapat dirangkum dua hal, yaitu, sebagai kemampuan mahasiswa menguasai aspek-aspek keterampilan dan komponen bahasa, dan kemampuan mahasiswa menghasilkan tulisan yang baik dan efektif berdasarkan prinsip kepaduan dan koherensi. Baik artinya paragraf tersebut merupakan suatu kesatuan yang padu dan koheren. Efektif dimaksudkan bahwa tulisan mereka nantinya mampu menarik perhatian pembaca sekaligus mampu menyampaikan pesan yang ingin dituangkan secara tepat dan baik. Kedua kemampuan di atas, tidaklah bisa dipisahkan mengingat keduanya merupakan satu kesatuan yang saling mendukung. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa, mahasiswa akan bisa dikategorikan belum memiliki kompetensi yang cukup apabila mereka tidak menguasai kedua kemampuan tersebut dengan baik.
Pembelajaran menulis pada hakekatnya adalah suatu pembelajaran tentang bagaimana seseorang mengekspresikan ide dan perasaannya lewat media tulisan (Rainey, 2003: 2). Melalui kegiatan menulis, seseorang juga bisa mengemukakan keperluannya, bisa merekam pikiran-pikirannya mengenai hal-hal yang penting atau kegiatan-kegiatan yang sifatnya pribadi dalam hidup mereka. Bahkan, menulis juga bisa dijadikan hiburan, dimana seseorang bisa mengkomunikasikan perasaan dan idenya kepada orang lain melalui media dan bentuk yang beragam, seperti surat, otobiografi, cerita, dan esai.
Reinking, dkk. (2002: 3) menyatakan bahwa terdapat empat tujuan umum dari kegiatan menulis, yaitu untuk menginformasikan, mempengaruhi, mengungkapkan, dan menghibur. Dalam suatu tulisan, hampir semua yang ditulis oleh penulis merupakan cerminan dari kemampuannya akan pengolahan kata-kata sehingga bahkan hal-hal yang abstrak bisa ditampilkan dengan lebih jelas karena kemampuan tersebut. Terdapat banyak jenis karangan atau tulisan, seperti tulisan naratif, deskriptif, argumentatif, persuasif, dengan berbagai kelasnya, seperti klasifikasi, perbandingan, sebab akibat, dan lain-lain. Seluruh jenis tulisan tersebut harus dikuasai oleh mahasiswa dimana mereka diharapkan mampu menunjukkan penguasaan akan jenis-jenis tulisan termasuk komponen kebahasaan lainnya. Dengan demikian, kemampuan mahasiswa untuk mengungkapkan ide dan perasaan mereka akan bisa tersampaikan secara efektif kepada pembacanya. Dalam menulis, mahasiswa harus mampu menguasai beberapa hal. Pertama, mahasiswa harus mampu menguasai elemen-elemen tulisan, seperti topic sentence/thesis statement, introduction, body, dan conclusion. Masing-masing elemen tersebut memiliki karakteristik yang harus diikuti agar tulisan mahasiswa nantinya menjadi lebih baik. Kedua, mahasiswa harus mampu menguasai pengetahuan akan komponen-komponen yang membentuk suatu tulisan yang padu dan koheren. Ketiga, mahasiswa mampu memiliki kompetensi menulis suatu tulisan berdasarkan jenis-jenis komposisinya.
Motivasi dalam Belajar Bahasa
Gardner dan Tremblay (1994) menyatakan bahwa motivasi berhubungan dengan bagaimana seseorang bertingkah laku. Disebutkan bahwa terdapat 4 aspek dalam motivasi, antara lain 1) tujuan, 2) usaha, 3) keinginan mencapai tujuan, dan 4) tingkah laku yang mendukung pencapaian suatu pemecahan masalah. Selain itu, motivasi juga didefinisikan sebagai suatu awal untuk menciptakan dan menjaga tingkah laku seseorang menuju pencapaian tujuan (Ames & Ames, 1989). Aspek motivasi ini sangat penting karena berperan dalam menentukan keaktifan dan tingkah laku siswa dalam belajar (Ngeow, 1998).
Oxford & Shearin (1994) lebih lanjut menyatakan bahwa motivasi adalah hasrat untuk mencapai tujuan, dikombinasikan dengan usaha untuk mencapai tujuan tersebut. Banyak peneliti mempertimbangkan motivasi sebagai sebuah elemen utama yang menentukan kesuksesan dalam meningkatkan kemampuan dalam mempelajari bahasa kedua maupun bahasa asing. Hal ini menentukan rentang keaktifan,dan keterlibatan personal dalam mempelajari bahasa kedua. Motivasi dapat dibagi menjadi dua yaitu motivasi positif dan motivasi negatif. Motivasi positif timbul sebagai respons yang melibatkan kenyamanan dan optimisme tentang tugas-tugas yang diemban. Sedangkan motivasi negatif mengacu pada pengambilan tugas-tugas yang selalu dihantui rasa tidak nyaman yang pada akhirnya menghasilkan sesuatu yang tidak diinginkan pula. Sebagai contoh, ketidaklulusan, yang disebabkan motivasi yang rendah sehingga tugas-tugas perkuliahan tidak dapat diselesaikan dengan baik. Sehubungan dengan hal tersebut, Gardner dan Lambert (1972) mengemukakan sebuah model yang disebut dengan Socio- Educational Model. Model ini tersusun setelah melakukan penelitian selama lebih dari sepuluh tahun dan disimpulkan bahwa tingkah laku pembelajar terhadap bahasa dan budaya target memiliki peranan penting dalam motivasi pembelajaran bahasa. Dari model ini terdapat dua macam motivasi, yaitu motivasi instrumental dan integratif.
Motivasi instrumental mengacu pada keinginan pembelajar untuk mempelajari bahasa dengan tujuan untuk tujuan-tujuan riil dan praktis, misalnya persyaratan masuk perguruan tinggi, mencari pekerjaan, atau berkunjung ke suatu tempat. Sedangkan motivasi integratif mengacu pada keinginan untuk mempelajari bahasa dengan tujuan mampu berinteraksi dengan masyarakat bahasa target. McDonough (1981) menambahkan bahwa terdapat dua jenis motivasi integratif, yaitu motivasi asimilatif dan motivasi afiliatif. Motivasi asimilatif merupakan motivasi ‘kuat’ dari seseorang untuk berasimilasi dengan budaya dan bahasa masyarakat target secara penuh. Sedangkan motivasi afiliatif merupakan motivasi ‘lemah’ dari seseorang untuk berinteraksi secara penuh dengan budaya dan bahasa masyarakat target tanpa melupakan budaya yang dimilikinya.
Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK)
Sebagai imbas dari globalisasi dewasa ini, penyebaran bahasa Inggris dan perkembangan teknologi telah merubah pembelajaran bahasa Inggris sebagai suatu lingua franca (Warschauer and Healey, 1988). Hasilnya, baik bahasa Inggris dan TIK telah menjadi keterampilan literasi yang sangat penting bagi sebagian besar bukan penutur bahasa Inggris asli untuk lebih mendalami bahasa Inggris (Papert, 1980). Tidak dapat dipungkiri, penyebaran sekaligus pemanfaatan TIK dalam dunia pendidikan telah berkembang dengan sangat pesat di banyak negara.
Karena perkembangannya yang pesat, TIK dipandang sebagai suatu hal yang mampu memberikan tantangan sekaligus kesempatan. Bahkan UNESCO, dalam pertemuannya di Dakkar, April 2000, telah menyatakan pemanfaatan TIK sebagai salah satu strategi utama untuk mencapai misi “Pendidikan Bagi Semua” (EFA/Education for All) (UNESCO-CI.htm, 2005). Pelgrum (1996) lebih lanjut menyatakan bahwa TIK:
• mampu memotivasi mahasiswa untuk berkolaborasi satu sama lainnya dan bertanggung jawab terhadap proses pembelajarannya masing-masing,
• membantu bakat individu, memberi kemandirian, dan rasa percaya diri yang sepantasnya,
• membantu mahasiswa menggunakan imaginasi mereka dan mempromosikan kreativitas, dan
• membangun inkuiri dan keterampilan berkomunikasi serta membentuk kemampuan mahasiswa akan konteks-konteks yang membutuhkan pemikiran kritis, pengambilan keputusan, dan kegiatan-kegiatan pemecahan masalah.
Sehubungan dengan pemanfaatan TIK dalam pembelajaran, Zhu dan Kapaln (2001) mengajukan suatu model pengajaran berbasis teknologi. Dari pendekatan sistem, pengajaran berbasis teknologi meliputi empat komponen, yaitu mahasiswa, dosen, bahan ajar dan perangkat teknologi. Penjelasan mengenai figur ini dapat disampaikan melalui kutipan berikut. (Zhu and Kaplan, 2001: 6):
“An examination of each component raises a set of issues that the teachers need to consider in order to make technology integration as successful as possible. For example, content can be examined in terms of learning outcomes and the discipline being taught. Teachers can think of their own experience with technology, the amount of time they have for planning and teaching, and their view of their role in the teaching and learning process. They need to think carefully about their students, their exposure and access to technology as well as their preferred learning styles. Finally, they can turn to the technology itself and analyze it according to its functions. This approach to teaching and learning with technology assumes that the four component parts are integrated and that changes in one part will require adjustments to the other three in order to achieve the same goals.”
Sesuai dengan karakteristiknya yang bersifat terapan, TIK, dalam pembelajaran bahasa Inggris dapat diintegrasikan pada keempat keterampilan bahasa dan komponen bahasa lainnya. Dipercaya bahwa TIK mampu memberikan suatu model pembelajaran yang interaktif, inovatif, dan kreatif. Dengan memanfaatkan TIK, kemampuan mahasiswa dapat ditingkatkan karena kegiatan yang dilakukan sangat beragam, bisa diperluas, dan bersifat riil tadi. Pelgrum (1996) menyatakan bahwa TIK dapat membantu mahasiswa untuk:
• menggunakan berbagai strategi untuk mengeksplorasi perbedaan, persamaan, dan koneksi/hubungan secara dinamis,
• menjelaskan teks secara inovatif,
• memperkaya atau memperluas konteks pembelajaran literasi,
• melihat teks dari sudut pandang alternatif/yang berbeda,
• menggunakan teknik-teknik analitis dan kritis,
• menyusun dan memproses teks dan data dengan lebih cepat dan efisien,
• menyusun dan mengatur teks dan data dengan menggunakan kombinasi kata, gambar, suara, dan hiperteks (multimedia),
• menyimpan, merekam, mengedit, dan mengadaptasi pekerjaan dengan lebih cepat dan efisien,
• menyimpan bukti-bukti proses editing sehingga dapat diteliti atau uji kembali jika diperlukan,
• merubah struktur dan kualitas teks agar sesuai dengan audiens dan tujuan yang beragam,
• menyusun teks yang multi pengarang,
• memilih audiens yang lebih riil, lebih luas di seluruh belahan dunia,
• melatih kemampuan untuk menggunakan media dan desain yang sesuai ketika menyusun suatu tulisan atau kegiatan lainnya agar sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Mengingat perkembangan dan manfaatnya, saat ini, banyak sekolah-sekolah dan lembaga lainnya telah memanfaatkan TIK sebagai alat untuk mempromosikan pembelajaran, baik untuk meningkatkan kompetensi, merespon perkembangan kemampuan seseorang, dan hal-hal lainnya untuk pembelajaran yang lebih efektif. Jager and Lokman (1999) menambahkan bahwa proses pembelajaran, standar asesmen, dan kompetensi dapat ditingkatkan melalui pemanfaatan TIK dalam proses belajar mengajar. Sehubungan dengan pembelajaran menulis, Goldberg, dkk. (2003) menyatakan bahwa menulis dengan menggunakan komputer and memanfaatkan media TIK dapat meningkatkan jumlah tulisan mahasiswa, sekaligus kompetensi menulis mereka mengingat mereka diberikan kesempatan untuk menulis dan mengekspresikan ide, perasaan, dan pengalaman mereka secara kreatif dan inovatif.
Media Blog (Jurnal Online) sebagai Media Pembelajaran Menulis
Menurut Rouf dan Sopyan (2007), blog adalah suatu laman (situs) online yang berfungsi sebagai media jurnal/diari bagi seseorang. Jovan (2007) menambahkan bahwa blog adalah “a personal diary, a daily pulpit, a collaborative space, a political soapbox, a breaking-news outlet, a collection of links, one’s own private thoughts, and memos to the world.” Graham (2005) menyatakan bahwa membuat blog tidaklah sulit karena hanya memerlukan pemahaman sederhana mengakses internet, sama mudahnya untuk membuat dan mengirim e-mail. Membuat blog tidaklah memerlukan pemahaman akan bahasa pemrograman atau sintaks-sintaks pemerograman yang rumit karena semua sudah dikerjakan oleh sistem. Yang harus dilakukan hanya menulis dan mempublikasikannya langsung. Blog dengan berbagai jenis dan variasi fiturnya telah banyak menarik minat orang untuk memnfaatkannya dalam pembelajaran di kelas. Terdapat beberapa peneliti dan penulis yang telah mengkaji pemanfaatan media blog (jurnal online) untuk pembelajaran bahasa Inggris. Jati (2006) meneliti penggunaan blog kelas dan blog mahasiswa untuk kelas menulis. Ia menemukan bahwa meskipun pada awalnya, blog tidak ditujukan untuk pembelajaran bahasa Inggris, blog mampu menjadi media yang sangat berguna untuk pembelajaran menulis. Jati (2006: 2) mengatakan bahwa:
“By utilizing free blogging services on the Internet, teachers are capable of creating and storing online supplemental materials for students, post class notes for student review, and give general feedback to the class as whole and individually. Additionally, students are able to submit assignments online.”
Educational Blogger Network dalam “use weblog technology for the teaching of writing and reading across the disciplines” (eBn, 2003) menambahkan bahwa blog telah mampu merambah segala bidang, mulai jurnalisme, politik, hiburan, dan pendidikan, dari pendidikan awal sampai lanjutan. Meskipun masih berupa embrio, namun ide tersebut menyimpan potensi untuk berkembang lagi.Campbell (2003) lebih lanjut menyarankan kalau blog bisa digunakan sebagai media bagi mahasiswa untuk mengungkapkan pendapat, ide, dan informasi menarik lainnya dalam lingkup pembelajaran bahasa Inggris. Duber (2002) bahkan telah menyediakan link ke beberapa blog tutor yang ada di dunia maya sana.
Sehubungan dengan penggunaan bantuan teknologi Pederson dan Bonnstetter (1990) menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi mampu meningkatkan motivasi belajar sehingga membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna. Untuk penggunaan media yang disampaikan melalui multimedia, Santosa (2005) menemukan bahwa penggunaan media yang disampaikan melalui multimedia sebagai bentuk pemanfaatan inovasi teknologi, seperti audio, slide bergerak, dan video, mampu meningkatkan kemampuan dictation mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Inggris.
Dengan demikian, pemanfaatan blog sebagai wadah atau media jurnal online dalam pembelajaran, khususnya keterampilan menulis sangatlah dimungkinkan mengingat. Banyak hal yang bisa ditaruh dalam blog. Menariknya, blog juga memberikan kesempatan bagi penggunanya untuk menaruh suara, video, gambar, dan lainnya. Semua hal tersebut mudah untuk dilakukan (www.blogger.com, 2007). Melalui media blog, seseorang dapat mengumpulkan dan membagi hal-hal yang menarik, entah itu komentar politik, diari, atau link ke laman (situs) lain yang relevan. Ide dari pembuatan blog sebenarnya tidak hanya untuk mengungkapkan ide, perasaan, dan pengalaman, namun juga untuk mendapatkan respon dari pengguna blog yang memiliki tujuan sama. Hal inilah yang sangat menarik juga dari blog, karena orang-orang di seluruh dunia bisa melihat, memberi komentar, mengambil (jika dibuat seperti itu) hal-hal yang mereka anggap perlu. Hal inilah yang membuat “dunia blog” sangat dinamis dan atraktif (Wang dan Fang, 2006). Rouf dan Sopyan (2007) menyatakan bahwa terdapat tiga jenis blog, yaitu:
• Blog Tutor.
Blog ini dijalankan oleh dosen di kelas. Isi dari blog ini biasanya terbatas pada silabus, informasi mata kuliah, pekerjaann rumah, dan lainnya. Atau, dosen bisa menulis mengenai ide, perasaan, dan pengalaman dirinya untuk kemudian bisa dibagi dilihat dari berbagai perspektif, seperti budaya, pemberian informasi, dan hal lainnya. Tipe blog ini membatasi ruang gerak mahasiswa untuk lebih berkreasi.
• Blog Kelas.
Blog ini memiliki karakteristik ‘agihan’ (share) dimana dosen dan mahasiswa bisa menyumbangkan ide dan pengalamannya. Blog jenis ini sangat baik digunakan sebagai ruang diskusi kolaboratif bagi dosen dan mahasiswa. Mahasiswa diberikan kebebasan yang lebih untuk menulis dan berinteraksi dalam blog jenis ini.
• Blog Mahasiswa.
Blog jenis ini sebenarnya memerlukan lebih banyak waktu dan usaha dari dosen untuk mengatur dan menyusun segala hal yang diperlukan, namun mungkin merupakan yang paling baik bagi mahasiswa dilihat dari kesempatan yang diberikan untuk menulis, mengekspresikan ide, perasaan, dan pengalaman mereka. Mahasiswa akan memiliki blog mereka sendiri dan biasanya mereka akan memerikan yang terbaik bagi milik mereka sendiri.
Terdapat beberapa alasan mengapa blog dimanfaatkan sebagai media pembelajaran menulis. Wang dan Fang (2006) menyatakan bahwa blog mampu memberikan audiens riil bagi tulisan mahasiswa. Biasanya, hanya dosen yang mengoreksi dan memberi komentar atas tulisan mahasiswa dan fokus yang diperhatikan adalah biasanya pada bentuk, bukan isi. Dengan blog, mahasiswa diberikan kesempatan untuk mendapat audiens riil, baik teman sekelas, diluar kelas, orang tua, atau orang lain di belahan dunia lain yang memiliki akses ke internet. Graham (2005) menambahkan beberapa alasan lain bagi dosen untuk memanfaatkan blog untuk pembelajaran menulis, yaitu:
• Blog memberikan latihan membaca ekstra bagi mahasiswa.
Bacaan ini bisa diberikan oleh dosen, mahasiswa lain dari kelas yang sama, atau luar kelas, dan jika melalui blog, bisa dari orang-orang di seluruh dunia.
• Blog bisa sebagai jurnal online mahasiswa yang bisa dibaca oleh teman sekelasnya.
Keuntungan dan jurnal online ini adalah arsip yang secara otomatis dibuatkan oleh sistem blog yang diikuti. Karena sifatnya yang terbuka, pemanfaatan blog mampu meningkatkan minat dan jumlah audiens.
• Blog bisa menuntun mahasiswa ke sumber-sumber belajar lainnya yang tersebar dalam jumlah yang melimpah di situs-situs lainnya.
Untuk lebih menuntun mahasiswa pada sumber belajar yang tepat dan sesuai dengan levelnya, dosen bisa memberi arahan atau menggunakan blog tutornya sebagai portal sumber-sumber belajar bagi mahasiswanya.
• Blog mampu meningkatkan rasa saling percaya, mandiri, dan kerjasama antara mahasiswa karena adanya aktivitas saling memberi komentar, saling mengisi informasi, dan hal-hal lainnya yang menarik.
• Blog mampu memotivasi mahasiswa yang pemalu dan kurang percaya diri untuk berpartisipasi.
Hal ini sering terjadi dimana mahasiswa pendiam biasanya bisa ‘berani’ untuk mengungkapkan ide dan perasaannya ketika diberikan kesempatan melalui blog.
• Blog mampu menstimulasi diskusi di luar kelas.
Blog bisa menjadi media diskusi sebelum dan sesudah pembelajaran di kelas. Apa yang mahasiswa tulis juga bisa sebagai bahan diskusi selanjutnya.
• Blog bisa memotivasi mahasiswa untuk menulis melalui sebuah proses.
Karena mereka menulis untuk dipublikasikan ke dunia luar, mereka akan secara otomatis lebih memikirkan segala aspek tulisannya sehingga secara tidak langsung akan memberikan latihan menulis bagi mahasiswa ke arah yang lebih baik.
• Blog bisa menjadi portofolio online bagi tulisan mahasiswa.
Hal ini dimungkinkan karena adanya arsip yang secara otomatis dibuat oleh blog itu sendiri sehingga kapanpun mahasiswa memerlukan, mereka bisa kembali membuka tulisan mereka, berikut nilai serta komentar yang diberikan.
Untuk terus menerus mempertahankan minat mahasiswa untuk menulis di blog, dosen harus mampu membuatnya menjadi suatu kebiasaan. Jika tidak, blog-blog tersebut akan ditinggalkan oleh penggunanya. Dosen,sebagai fasilitator utama dalam hal ini harus mampu memotivasi mahasiswa secara berkesinambungan. Terdapat beberapa hal yang dosen harus lakukan untuk tetap memotivasi mahasiswa menunjukkan tulisan mereka yang terbaik, yaitu:
• merespon posting tulisan mahasiswa secepatnya, menulis komentar pendek, dan memberikan hal-hal lain yang mampu memberikan stimulus bagi tulisan mereka,
• memotivasi mahasiswa terus menerus dengan mengajak teman sekelas untuk saling memberi komentar dan berbagi infoemasi, dan
• menyuruh mahasiswa untuk menulis dan mengumpulkan tulisan mereka di blog sebagai media online selain ke teman sekelas dan dosen (Graham, 2005).
Telah disebutkan sebelumnya bahwa blog bisa digunakan secara efektif untuk meningkatkan kompetensi menulis mahasiswa. Sebelum memanfaatkan blog ini, dosen harus memutuskan dulu blog jenis apa yang akan digunakan, apakah blog tutor, blog kelas, atau blog mahasiswa, disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Setelah itu, baru memanfaatkan media blog tersebut secara efektif di dalam kelas untuk pembelajaran menulis. Untuk membuat blog, terdapat beberapa hal yang perlu dimiliki/dilakukan, yaitu:
• Sebuah e-mail.
Hal ini wajib dimiliki bagi seseorang yang ingin membuat blog.
• Memilih tipe blog.
Tipe blog tersebut bisa blog tutor, blog kelas, atau blog mahasiswa yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.
• Memilih penyedia blog yang ada secara online.
Terdapat banyak penyedia, seperti blogger, multiply, blogsome, wordpress, dan lainnya.
• Ikuti langkah mudahnya.
Tiap-tiap penyedia blog memiliki langkah yang berbeda, namun semuanya mudah. Dalam tulisan ini, penyedia dari multiply yang akan digunakan sebagai penyedia blog karena blog ini tidak begitu rumit dibanding blog lainnya. Misalnya pada pemahaman kode-kode HTML, adanya fasilitas Guesbook yang memungkinkan orang lain berkomentar satu sama lain, tampilan template yang beragam (dengan fasilitas CSS), dan lainnya.
Memang ada kelemahan, namun tidak terlalu mempengaruhi proses pembelajaran nantinya. Untuk membuat blog melalui multiply, terdapat lima langkah yang harus diikuti
yang bisa dijabarkan sebagai berikut:
1. Ketik http://www.multiply.com dan klik ‘Join for Free’.
2. Isi Identitas Diri.
3. Isi kontak teman (jika diperlukan, untuk mengundang mereka membuat blog atau memberitahu jika seseorang memiliki blog untuk dikunjungi).
4. Blog sudah jadi. Mudah sekali! Tinggal diisikan sesuai dengan keperluan.
Setelah blog dibuat, semua slot yang diberikan tinggal diisikan sesuai dengan keperluan dan bisa di-update setiap hari. Slot-slot yang ada di blog multiply adalah sebagai berikut.
• Blog Title.
Ini adalah tempat untuk memberi judul dari blog pemiliknya.
• Welcome Box.
Slot ini adalah tempat untuk menuliskan pesan atau tulisan awal atau pembuka yang biasanya berisi identitas diri sederhana dan ‘sambutan’ terhadap pengunjung blog tersebut.
• Photos.
Slot ini adalah tempat untuk menaruh foto-foto terkait, bisa pemilik atau orang lain, tentang diri pemilik, suatu kegiatan, atau foto dari sumber lain yang relevan dengan isi dari blog tersebut.
• Blog.
Slot ini adalah tempat menaruh tulisan pemilik. Dalam pembelajaran menulis,
slot ini yang paling penting dan utama, karena semua tulisan mahasiswa
ditaruh di slot ini.
• Video.
Slot ini adalah tempat untuk menaruh video terkait dengan isi dari blog atau yang pemilik inginkan.
• Music.
Slot ini adalah tempat untuk menaruh file-file musik yang pemilik blog sukai atau ingin bagi atau sebarkan.
• Calendar.
Slot ini merupakan kalendar dimana pemiliknya bisa menaruh tanggal-tanggal penting di dalamnya sesuai dengan situasi pemiliknya.
• Reviews.
Slot ini adalah tempat untuk menuliskan ulasan mengenai suatu hal, buku, film, musik dan sebagainya yang sesuai dengan minat pemilik blog.
• Links.
Slot ini juga sangat penting. Slot ini adalah tempat untuk menaruh link penting atau yang berhubungan dengan pemilik agar lebih mudah dan cepat untuk mengaksesnya. Hal ini juga berlaku bagi pengunjung.
• Contacts.
Slot ini adalah wadah bagi teman-teman pemilik blog. Di slot ini akan terlihat jumlah dan siapa saja teman-teman pemilik blog yang bisa dihubungi juga oleh pengunjung lainnya.
• Comments.
Slot ini juga sangat penting karena memberikan wadah berekspresi bagi pemilik dan utamanya pengunjung. Di sini, pengunjung bisa memberi komentar tentang blog secara umum, atau suatu bagian dari blo, misalnya tulisan, foto, musik, video, atau kalendar pemilik blog.
• Groups.
Slot ini adalah wadah bagi orang-orang yang memiliki ketertarikan terhadap suatu hal yang sama sehingba mereka bisa bergabung dalam satu wadah dan berinteraksi satu sam lain. Hal ini juga sangat penting bagi pembelajaran menulis, dimana mahasiswa bisa ikut dalam suatu grup untuk memudahkan interaksi dan komunikasi sesamanya.
Dalam proses kustomisasi, terdapat berbagai hal lain yang mungkin diperlukan seperti CSS (Custom Style Sheet), RSS (Rich Summary Site/Really Simple Syndicate), pemahaman HTML Script dan lain-lain agar bisa memperluas akses seseorang terhadap ‘dunia blog’. Setelah seluruh mahasiswa memiliki blog mereka sendiri, dosen menuntun mahasiswa untuk menulis lewat blog, kemudian menunjukkan beragam aktivitas yang bisa dilakukan dengan memanfaatkaan media blog, seperti memberi komentar, menambah file audio, video, link ke sumber belajar lainnya yang relevan.
Antara dosen dan mahasiswa bisa saling memberikan komentar satu sama lain mengenai tulisan yang telah dibuat, baik pada proses outline, draft, sampai tulisan final. Komentar bisa mengenai berbagai hal, seperti komponen kebahasaan, isi, dan pesan tulisan mahasiswa yang didasarkan pada sistem penilaian yang sudah baku sehingga tidak mengurangi kesahihan skor. Pemanfaatan media ini mampu memberikan aktivitas kolaboratif bagi penggunanya. Sebuah blog di penyedia multiply memiliki slot grup yang memberikan kesempatan bagi pemiliknya untuk membuat suatu wadah untuk menampung blog-blog individu lainnya yang memiliki kesamaan minat atau tujuan. Hal ini akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa dalam pembelajaran menulis karena untuk memberi komentar, satu sama lain harus tahu apakah temannya sudah menulis dan mempublikasikan tulisannya. Dengan tergabung dalam suatu wadah grup, mereka akan secara otomatis ‘diberi tahu’ oleh sistem kalau seseorang dalam grup yang sama telah mempublikasikan tulisan mereka.

KERANGKA PIKIR DAN PEMBAHASAN
Mengingat pesatnya perkembangan TIK dewasa ini, tidak ada salahnya jika jika fitur atau tools TIK yang relevan diterapkan pada pembelajaran bahasa Inggris. Salah satunya tools online yang gratis yang dapat dimanfaatkan dalam kemampuan menulis adalah blog (jurnal online). Seperti telah disampaikan sebelumnya, blog dapat berfungsi sebagai jurnal seseorang dimana pemilik blog bisa mengekspresikan ide dan perasaannya melalui media tersebut dan dipublikasikan online. Sesuai dengan karakteristiknya, blog juga bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran, khususnya menulis. Dalam pembelajaran menulis di kelas, mahasiswa diberikan suatu wadah untuk berekspresi dan berinteraksi dengan dosen, teman-temannya, dan orang-orang lainnya yang memiliki ketertarikan dan akses yang sama. Mereka akan memiliki blog mereka sendiri untuk kemudian digunakan sebagai media menulis esai mereka. Melalui proses pembelajaran menulis yang sangat menekankan pada PROSES menulis (outline, revisi, draft, revisi, final writing) di kelas dan online yang secara simultan dilakukan, media blog (jurnal online) sebagai media pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa dalam pembelajaran menulis.Telah disampaikan sebelumnya bahwa terdapat langkah-langkah membuat blog degan penyedia dari multiply. Setelah blog dibuat, hal selanjutnya yang perlu disampaikan adalah bagaimana memanfaatkan media blog dalam pembelajaran menulis. Dengan menekankan pada PROSES menulis, pembelajaran menulis berbantuan blog haruslah memperhatikan 5 hal, yaitu :
1) pembuatan blog,
2) proses membuat outline,
3) proses membuat draft,
4) proses revision, dan
5) proses publikasi ke media blog (jurnal online).
Secara lebih rinci, kelima tindakan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut.
1. Pembuatan Blog (Jurnal Online)
Dalam hal ini, dosen akan menunjukkan langkah-langkah membuat blog kepada mahasiswa dengan menggunakan penyedia dari multiply dengan langkah- langkah yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu:
a. Ketik http://multiply.com
b. Klik ‘Join for Free’
c. Isi ID
d. Undang contacts (jika diperlukan)
e. Blog sudah selesai, tinggal diisi sesuai dengan keperluan.
2. Membuat Outline
Setelah suatu pokok bahasan mengenai jenis komposisi tertentu dalam tulisan selesai dijelaskan, mahasiswa akan membuat outline (semacam kerangka pikir tulisan yang berisi pokok-pokok pikir dengan penjabaran singkat dan padat). Perlu diperhatikan bahwa proses ini adalah proses yang tidak mudah dan sangat menentukan keberhasilan dan arah tulisan mahasiswa. Diyakini bahwa 75% tulisan akan baik dan efektif jika outline sudah baik pula. Outline terdiri dari tiga elemen penting, yaitu Topic Sentence/Thesis Statement, Developmental Paragraphs, dan Conclusion. Dosen kemudian bisa menyuruh mahasiswa melakukan koreksi dengan teman sekelas dengan menggunakan cara instrumen penilaian tulisan, misalnya dalam hal ini dengan menggunakan formative scoring feedback yang memiliki tiga cara memeriksa yang bisa dipilih salah satunya: correction, atau controlled correction, atau guided correction. Setelah itu, bersama-sama dibahas outline mahasiswa dengan menampilkannya di depan kelas (lewat media LCD), dan direvisi jika ada. Outline yang mereka telah hasilkan kemudian harus diupload ke blog mereka. Masing-masing dari mereka dapat memberi komentar mengenai outline temannya. Proses koreksi ini juga sangat penting dilakukan dari awal proses menulis sampai akhir. Mahasiswa diberi penjelasan tentang apa dan bagaimana cara mengoreksi pekerjaan temannya sebelum dikumpulkan kepada dosen untuk dikoreksi kembali. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa proses koreksi menggunakan formative scoring feedback. Dalam menggunakan formative scoring feedback ini, terdapat dua hal pokok yang harus dilakukan. Hal pokok pertama adalah mengenai bagaimana mahasiswa dan dosen mengkoreksi tulisan yang dibuat, apakah dengan cara correction (memberikan masukan yang eksplisit tentang ide atau kata tertentu, langsung dengan yang benar), controlled correction (memberi masukan dengan hanya memberikan poin-poin ide atau kata yang lebih baik), atau guided correction (memberi masukan secara implicit dengan hanya memberi kode/penanda tertentu yang telah disepakati sebelumnya, berdasar atas konvensi, pada ide atau kata yang mesti direvisi). Semua hal ini sudah ada dalam bentuk instrumen baku dan valid sehingga bisa digunakan. Hal pokok kedua adalah formative scoring feedback, yaitu memberi penilaian atas tulisan mahasiswa sesuai dengan sistem penskoran yang telah standar. Sistem penskoran yang akan digunakan adalah adaptasi dari J.B. Heaton (1991) mengenai “Writing English Tests.” Penilaian akan diberikan oleh teman sekelas mahasiswa sebagai bentuk dari peer correction activity dan dari dosen setiap akhir proses menulis suatu jenis komposisi. Penilaian ini menekankan pada lima hal penting dalam sebuah tulisan, yaitu content, organization, vocabulary, language use, dan mechanics. Untuk lebih jelasnya, formative scoring feedback.
3. Membuat Draft
Proses ini dilakukan jika outline tulisan mahasiswa dianggap sudah memadai, dalam arti jelas akan apa yang akan dikembangkan dalam esai mereka. Mahasiswa sudah mulai membuat tulisan dengan mengembangkan pokok-pokok pikiran pada elemen-elemen outline dengan menambahkan frase atau kalimat, juga penanda transisi yang relevan. Draft yang mereka telah buat kemudian harus diupload ke blog mereka. Masing-masing dari mereka dapat memberi komentar mengenai draft temannya.
4. Merevisi
Dalam proses ini, tulisan mahasiswa diberikan kembali kepada teman sekelasnya untuk bersama-sama mengkoreksi draft tulisan yang telah dibuat dengan cara cara correction, atau controlled correction, atau guided correction dan memberi nilai dengan menggunakan formative scoring feedback yang telah diberikan sebelumnya. Pada proses ini, mahasiswa masih boleh merevisi tulisan mereka.
5. Mempublikasikan Tulisan
Setelah tulisan mahasiswa direvisi, tiba saatnya mereka mempublikasikan tulisan final mereka. Inilah saat dimana tulisan final mereka diupload ke blog mereka masing-masing. Dosen akan mengecek tulisan mereka dan memberi komentar. Tulisan final mereka ini juga di cetak dan dikoreksi oleh temannya sebelum dikoreksi oleh dosen. Jadi tulisan mahasiswa melewati berbagai tahapan proses menulis dengan harapan apa yang mereka hasilkan bisa lebih baik dan efektif. Dengan blog, tulisan mereka akan dilihat oleh orang-orang selain teman dan dosen mereka, dan karena ditampilkan ke publik, mahasiswa akan berusaha menampilkan usaha mereka yang paling baik.
Sebagai aktivitas tambahan, motivasi mahasiswa juga bisa dicari tahu sehubungan dengan pemanfaatan blog pada pembelajaran menulis. Hal ini bisa dilakukan dengan menyebarkan kuisioner online melalui penyedia survey online seperti http://www.surveymonkey.com.
Hal ini bisa bersifat sekaligus bagi mahasiswa karena ketika mereka online untuk menaruh tulisan di blog, mereka juga bisa memberikan komentar mereka secara online di media survey online yang telah disebutkan sebelumnya. Kuisioner ini sifatnya melengkapi namun bisa sangat bermanfaat untuk mengetahui pendapat mahasiswa tentang pemanfaatan blog dalam pembelajaran menulis. Dalam hal ini, bisa dilihat pada aspek motivasi mahasiswa. Aspek motivasi yang ingin diketahui diformulasikan dengan mengacu pada empat aspek motivasi, yaitu
1) tujuan,
2) usaha,
3) keinginan mencapai tujuan, dan
4) tingkah laku yang mendukung pencapaian suatu pemecahan masalah (Honey, 2007).
Keseluruhan proses tersebut tidak dapat dipungkiri adalah suatu proses yang lumayan berat untuk dilakukan. Proses menulis sendiri merupakan rangkaian panjang seseorang untuk mencurahkan atau mengekspresikan ide dan pikirannya dalam suatu wadah tuangan tulisan. Dalam hal ini, selain menekankan bahwa kegiatan menulis harus melalui suatu PROSES menulis, yaitu mulai dari membuat outline, merevisi, membuat draft, merevisi, sampai suatu tulisan final dihasilkan, penggunaan media blog sebagai media jurnal online tentunya akan sangat membantu mahasiswa dalam menuangkan ide dan pikirannya karena karakteristik blog yang telah disampaikan sebelumnya. Tentunya, persiapan yang matang, kemampuan pengajar akan pembelajaran menulis dan teknis pengelolaan blog sangat diperlukan sehingga apa yang diinginkan, yaitu kualita pembelajaran menulis yang lebih baik dan peningkatan prestasi belajar mahasiswa dalam pembelajar menulis, bisa tercapai.

SIMPULAN DAN SARAN
Dalam era globalisasi dewasa ini, TIK berkembang dengan pesat di berbagai bidang, salah satunya pada bidang pendidikan. Seiring dengan perkembangan dan tuntutan jaman, seseorang dituntut untuk mampu dan memiliki kualitas serta kemampuan kompetitif dalam hidupnya. Dalam bidang pendidikan, tuntutan semacam ini membuat berbagai hal, tantangan sekaligus kesempatan untuk berkembang dan berkreasi. Pembelajaran bahasa Inggris adalah salah satu dalam bidang pendidikan yang menuntut hal seperti ini. Keterampilan menulis adalah salah satu keterampilan penting yang harus dikuasai dengan baik oleh seseorang yang belajar bahasa Inggris. Dengan memiliki kemampuan menulis; menuangkan ide dan pikiran dalam tulisan dengan baik dan efektif, seseorang dapat dikatakan telah mampu memanfaatkan peluang sekaligus mengatasi tantangan. Namun, kegiatan menulis tidaklah semudah yang dibayangkan jika dilakukan tidak dengan suatu proses dan jika memungkinkan, pemanfaatan suatu media inovatif. Salah satu media yang bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran menulis adalah media blog atau jurnal online. Sederhananya, blog adalah sebuah halaman web seseorang yang sering di update yang sering disebut dengan jurnal online. Blog atau jurnal online diyakini dapat membantu mahasiswa menulis apapun yang mereka senangi, dimana mereka bisa edit dan publikasikan sesering mereka mau, yang juga bisa menjadi media agihan (sharing) bagi semua audiens, baik di dalam kelas maupun di luar kelas, bahkan ke luar negeri yang tidak bisa dibayangkan mengingat jurnal tersebut bersifat online. Sehubungan dengan peningkatan kemampuan menulis, pemanfaatan media blog sangatlah sesuai dengan karakteristik pembelajaran menulis. Mahasiswa bisa menulis apapun pada bagian blog yang telah ada dan informasi lainnya di slot lainnya yang tersedia. Dalam penerapannya, satu hal yang paling penting diingat untuk dilaksanakan adalah adanya PROSES menulis, mulai dari pembuatan outline, revisi, pembuatan draft tulisan, revisi, sampai suatu tulisan final bisa dihasilkan. Sehubungan dengan pemanfaatan blog sebagai media jurnal online dalam pembelajaran menulis adalah 1)pembuatan blog, 2) proses membuat outline, 3) proses membuat draft, 4) proses revision, dan 5) proses publikasi ke media blog (jurnal online).Beberapa keuntungan dari pemanfaatan blog dalam pembelajaran menulis adalah bahwa blog mampu memberikan audiens riil bagi tulisan mahasiswa. Dosen, bersama-sama dengan teman-teman mereka, baik yang sekelas maupun di luar kelas, bahkan di tempat-tempat lain, orang tua mereka, dan mereka yang memiliki akses ke internet bisa melakukannya. Tanpa disadari, potensi audiens riil ini memberikan ‘tuntutan’ sekaligus kesempatan bagi mahasiswa untuk menunjukkan hasil karya mereka yang terbaik. Diharapkan hal ini juga akan memberikan motivasi yang lebih baik bagi peningkatan kompetensi menulis mahasiswa. Selain mampu memberikan audiens yang nyata danpotensial untuk perbaikan tulisan pembelajar, blog juga diyakini dapat memberikan nuansa inovasi, eksplorasi, dan kreasi yang lebih baik bagi tulisan mahasiswa. Juga, blog mampu memberikan interaksi yang lebih dinamis, kemampuan literasi yang lebih baik, bahkan perkembangan bekerja dalam tim. Mengingat keuntungannya, disarankan bahwa pengajar pembelajaran menulis, baik tataran paragraph sampai pembuatan esai atau report, bisa memanfaatkan media blog atau jurnal online dalam kegiatan menulisnya. Kegiatan menulis dengan memanfaatkan blog mesti memperhatikan tahapan-tahapan aktivitas menulis sehingga hasil yang lebih optimal bisa tercapai. Jika memungkinkan atau diharuskan, modifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu bisa dilakukan. Namun, perlu juga diperhatikan bahwa proses atau kegiatan menghasilkan suatu tulisan yang baik tidaklah mudah, bahkan dengan menggunakan media apapun. Dengan demikian, diusahakan agar pemanfaatan media ini dalam pembelajaran menulis tidak sampai memberatkan, misalnya dari segi teknis aplikasi TIK, segi situasi kelas, jumlah kelas, jumlah mahasiswa yang diajar, akses dan fasilitas, dan sebagainya. Pengajar mesti memahami betul teknis pengelolaan dan pemanfaatan aplikasi TIK agar tidak menyulitkan. Hal ini mungkin terjadi karena keterbatasan sebagai manusia. Dari segi situasi kelas dan mahasiswa, diharapkan agar proporsional sehingga tidak memberatkan, utamanya dalam proses umpan balik dan koreksi karena gabungan kegiatan face to face (FTF) dan online bisa membantu atau memberatkan. Hal-hal tersebut, jika diantispasi dari awal, tentu akan sangat membantu pencapaian kualitas pembelajaran menulis yang lebih baik. Demikian juga, prestasi dan motivasi mahasiswa diyakini akan dapat ditingkatkan.

DAFTAR PUSTAKA
2005. Education and ICT. Tersedia di UNESCO-CI.htm. Diakses pada 12
Agusutus 2007.
2006. BSNP Tegaskan Dinas Pendidikan Tidak Campuri Penyusunan
Kurikulum. http://www.hariannasib.com. Diakses pada 17 September 2006.
Ames, C., & Ames, R. 1989. Research in Motivation in Education. San Diego:
Academic Press.
Campbell, A. P. (2003, February). “Weblogs for use with ESL classes.” The Internet
TESL Journal, Vol. IX, No. 2. Dari http://iteslj.org/Techniques/Campbell-
Weblogs.html.
Duber, J. (2002, September). “Mad blogs and Englishmen.” TESL-EJ, Vol. 6. No. 2. Dari

http://www.kyoto-su.ac.jp/information/tesl-ej/ej22/int.html

eBn – the Educational Blogger Network. (2003, February 5). Bay Area Writing Project
News. From http://www.bayareawritingproject.org/bawpNews/2003/02/05
Gardner, R. C., and Tremblay, P. F. 1994. “On Motivation, Research Agendas, and
Theoretical Perspectives.” Modern Language Journal, 79, 359-368.
Goldberg, A., M. Russel, A. Cook. 2003. “The Effects of Computers on Student Writing: A Meta-Analysis of Studies from 1992 – 2002.” The Journal of Technology, Learning and Assessment Vol. 2 No. 1 February 2003. Tersedia di http://www.jlta.org
Diakses pada 4 September 2007.
Graham, S. 2005. Blogging For ELT. BRITISH COUNCIL.
Hamp-Lyons, L. and Heasley, B. 1987. Study Writing. Cambridge: Cambridge
University Press.
Heaton, J.B. 1991. Writing English Language Tests. USA: Longman Group UK Limited.
Honey, P. 2007. The Learning Motivation Questionnaire. Tersedia di http://www.peterhoney.com/content/Learning Motivation.htm. Diakses pada 10
April 2008.

http://multiply.com

Jager, A. K and A.H. Lokman. 1999. Impacts of ICT in Education. EDUCATION-LINE
Jati, A. G. 2006. Creating a Writing Course Utilizing Class and Student Blogs. ITB Language Centre.
Jovan, F. N. 2007. Panduan Praktis Membuat Web dengan PHP. Jakarta: Media Kita.
Kemmis, S., & McTaggart, R. 1990. The Action Research Planner. Geelong, Australia: Deakin University Press.
Larsen-Freeman, D.1986. Techniques and Principles in Language Teaching. United States of America: Oxford University Press.
Masidjo. 1995. Pencapaian Hasil belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius.
McDonough, S.H. 1981. Psychology in Foreign Language Teaching. London: Allen & Unwin.
McNiff, J. 1995. Action Research for Professional Development. Bournemouth: Hyde Publications.
Merchant, G. 2003. “E-Mail Me Your Thoughts: Digital Communication and Narrative
Writing.” Literacy. Volume 37 Page 104 – November 2003.
Mulyasa, E. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Cetakan Ketiga. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mutansyir, R. 2002. Sejarah Perkembangan Ilmu. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.
Ngeow, K. Y. H. 1998. ”Motivation and Transfer in Language Learning”. ERIC Digest.
http://www.ed.gov/databases/ERIC_Digests/ed427318.html. Diakses pada
tanggal 12 April 2005.
Nurkolis. 2002. Sekolah Unggulan yang Tidak Unggul. Tersedia di http://www.pendidikannetwork.com. Diakses pada 31 Oktober 2003.
Oxford, R. L. and Shearin, J. 1994. Language Learning Motivation: Expanding the Theoretical Framework. The Modern Language Journal, 78, 12-28.
Padmadewi, I.N. 2004. Authentic Assessment (Pengukuran Otentik). Singaraja: IKIP Negeri Singaraja.
Papert, S. 1980. Mindstorms: Children, Computers, And Powerful Ideas. New York: Basic Book.
Pederson J. E. dan Bonnstetter, R. J. 1990. The Jurisprudential Inquiry Model for STS.
Tersedia di http://www.google.com. Diakses pada tanggal 11 April 2004.
Pedoman Studi Universitas Pendidikan Ganesha. 2006.
Pelgrum, W. J. 1996. “The Educational Potential of New Information Technologies: Where are We Now?, in Collis, B.A. (ed.), Children and Computers in School, Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum.
Rainey, M.C. 2003. Expression: An Introduction to Writing, Reading, and Critical Thinking. USA: Longman, Inc.
Reinking, D., Bridwell, B., and Hart, A. W. 2002. Strategies for Successful Writing USA: Prentice Hall.
Rouf, I and Y. Sopyan. 2007. Panduan Praktis Mengelola Blog. Jakarta: Media Kita.
Santosa, M. H. 2005. Pengembangan Model Pembelajaran Diktatori Berbasis
Multimedia (Multimedia-Based Dictatory Learning) untuk Meningkatkan
Kualitas Pembelajaran Dictation pada Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris
IKIP Negeri Singaraja. Singaraja: IKIP Negeri Singaraja.
Sei-Hwa, J. 2006. The Use of ICT in Learning English as an International Language.
Tersedia di http://hdl.handle.net/1903/3885. Diakses pada October 15th
2007.
Wang, J. and Fang, W. 2006. Benefits of Cooperative Learning in Weblogs Networks.
Tersedia di http://www.google.com. Assessed on August 30th
2007.
Warschauer, M., & Healey, D. 1998. “Computers and Language Learning: An
Overview.” Language Teaching, 31, 57-71.
http://www.blogger.com
Zhu & Kaplan. 2001. McKeachie’s Teaching Tips. Tersedia di
http://crlt.umich.edu/index.html. Diakses pada September 24th
2007.
Sumber : http://makalahjurnalskripsi.com/wp-content/uploads/2009/12/contoh-jurnal-pendidikan-pemanfaatan-blog.pdf